Mungkin banyak dari kita sering dapat ilham untuk membuat sesuatu seperti membuat bisnis baru, produk baru, ide konten youtube, ide film, ide iklan, dsb. Kita cukup pede, ide ini sangat brilian, inovatif, breakthrough, mind blowing, dst karena kita melihat masalah besar di lingkungan sekitar dan dapat gambaran solusi untuk menghasilkan ide tersebut. Kemudian kita mulai rancang konsep ide tersebut, buat rencana-rencana / planning. Setelah itu mulai dikerjakan. Eksekusi. Secara perseorangan maupun membentuk tim untuk dikerjakan secara kolektif.

Tapi hasilnya kok gagal?! Jauh dari ekspektasi. Tidak sesuai dengan apa yang sudah kita rencanakan dan kerjakan. Padahal kita sudah bekerja keras dan melakukannya seoptimal mungkin. Kenapa tidak berhasil??

 Apakah ide kamu itu ada dasar data dan fakta nya? Atau ternyata hanya sebatas asumsi, pengamatan sekilas dan hanya dimodali oleh pengalaman pribadi? 

Asumsi kita itu belum tentu valid dan belum tentu bisa dipertanggung jawabkan kalau tidak ada dasar sumber literatur dan data fakta yang bisa dibuktikan loh. Asumsi berdasar pengalaman pribadi pun belum bisa dibilang valid, kalau sample fakta nya relatif sedikit, belum teruji kuat. Apalagi kalau sifat sample nya masih subyektif.

Perlu digarisbawahi dalam memberikan argumen dan gagasan apapun ke masyarakat umum, kalau argumen/gagasan itu kita klaim sebagai kebenaran dan solid, kita harus bisa memberikan pembuktian yang valid berupa sumber literatur yang ilmiah (dari jurnal akademis, whitepapers akademis, video akademis, pendapat ahli, video otentik dr sebuah peristiwa, dll) atau hasil penelitian sendiri yang sudah dikompilasi sesuai dengan metode riset yang disepakati bersama oleh banyak lembaga penelitian dan/atau universitas-universitas.

Kalau ga memenuhi standar dan syarat diatas, jangan coba-coba klaim argumen / gagasan kita itu absolute dan bisa diterapkan oleh siapa saja. Bahaya itu. Bisa merugikan banyak orang, bahkan bisa menyesatkan. Itulah fenomena yang sering terjadi berapa tahun terakhir di lingkungan sekitar kita, yang para pelakunya dianggap sebagai penyebar berita hoax, buzzer bayaran, dsb. Karena mereka menyebarkan segala sesuatu tanpa dasar literatur/pustaka yang jelas, opini subyektif, memotong sumber video otentik secara sembarangan dan sejenisnya.

Pada artikel ini, penulis ingin berbagi ilmu, wawasan tentang Research / Riset atau kata Bahasa Indonesia lainnya yang umum dan wajib digunakan lembaga-lembaga negara dengan istilah penelitian.

Riset bisa menjadi alat pemecahan masalah terhadap kegagalan dalam berbisnis / berwirausaha ataupun kegagalan dalam menjual produk yang sudah dibuat yang tidak laku, dsb. 


 

Research

Riset digunakan untuk menguji asumsi dan imajinasi kita, sudah sesuai? sudah tepat? atau ternyata salah dan keliru? Riset membutuhkan data dan fakta. Sumber nya pun harus tepat sasaran.

Riset tentang kesehatan narasumbernya harus ahli bidang kesehatan seperti dokter, spesialis, ahli gizi, peneliti virus, ahli mikrobiologi, apoteker, dsb.

Riset di bidang kuliner (F&B) musti cari narasumber yang berpengalaman di restoran, kafe, juru masak, pemilik warung padang, pemilik warteg, barista, pelayan restoran, manajer restoran, dkk. 

Itu contoh sederhana nya, dalam mencari sumber riset yang valid dan dapat dipertanggung jawabkan ke publik.

Riset umumnya digunakan oleh para profesional, para pebisnis startup, dkk untuk mengembangkan produk, follow up ide bisnis, merumuskan  solusi permasalahan, investigasi fenomena dan masalah industri, masalah di market, masalah di masyarakat kelas-kelas tertentu, serta mengolah peluang di situasi sulit.

Gimana cara melakukan riset yang baik dan benar? Setidaknya dimulai dengan cara yang sederhana, praktis, dengan peralatan seadanya dan tanpa butuh intelektual yang rumit dan tingkat tinggi setingkat doktor atau profesor 😁😎.

 

Berangkat dari Pertanyaan

Jangan lupakan 5W+1H. Ini akan selalu menempel dalam keseharian kita.

What, then How

Identifikasi dan cari tahu secara mendasar dan komprehensif apa yang sedang kita riset dan teliti. Apa Ide Besar nya. Baru setelah itu cari tahu dan pahami cara kerjanya, bagaimana ini dan itu bisa terjadi, bagaimana cara melakukannya, dsb.

Why?

Ini adalah pertanyaan paling penting ketika menginvestigasi ide, peristiwa, fenomena dan masalah yang terkandung di dalamnya. Critical Thinking atau berpikir kritis itu dibangun dari bertanya Kenapa / Mengapa. Kenapa mobil minibus/sedan rodanya empat? kenapa pikiran stress bisa menimbulkan/merangsang penyakit? Kenapa currency (mata uang) wajib menjadi nilai transaksi perekonomian dan finansial di seluruh dunia? Kenapa tidak bisa menggunakan instrumen lain selain money dan currency? Dan sebagainya.

Dari pertanyaan Why/Kenapa ini investigasi bisa dikerjakan dengan baik dan arahnya jelas, tidak mudah melenceng kemana-mana.

Where & When

Dua Jenis Pertanyaan sisanya, yaitu Dimana dan Kapan. Biasanya menjadi pertanyaan pendukung sebagai dasar informasi yang faktual. Jawaban dari pertanyaan kapan dan dimana akan memudahkan publik ataupun para ahli dalam melacak dan menguji validitas dan kesalahan hasil riset kita. Jangan takut salah, selama kesalahannhya tidak disengaja / tidak dibuat-buat. Sesuatu yang salah bisa dikoreksi. Ilmuwan dan profesor pun bisa salah.


 

Metode Riset yang Disepakati Bersama

Ada dua metode paling umum, yang digunakan oleh banyak universitas maupun lembaga-lembaga penelitian dalam mengoperasikan risetnya. Qualitative dan Quantitative. Kita gunakan metode-metode ini supaya hasil riset kita bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan diterima di dunia akademi. Jika dapat diterima di dunia akademi dan keilmuan, hasil riset kita bisa diterima pula dalam lingkungan yang lebih luas, yaitu publik dan society.

Untuk penjelasan lebih rinci dan lebih lanjut terhadap metode Qualitative, Quantitative dan metode riset alternatif yang lain, silakan baca ulasan terkaitnya di Cara Melakukan Riset Untuk Kebutuhan Bisnis, Kreasi, Produk, Dll

 

Riset Bukan Cuma ‘Punya’ Akademisi dan Ilmuwan

Jangan sampai ada stigma atau paradigma yang mengklaim bahwa riset / penelitian itu cuma bisa dilakukan oleh akademisi dan ilmuwan, yang strata pendidikannya sangat tinggi. Riset itu penting untuk kita garap dalam berbagai kebutuhan kita. Riset yang dikerjakan dan yang dihasilkan pun tujuannya bukan menjadi sekedar koleksi jurnal/buku di perpustakaan yang berdebu dan terabaikan di rak-rak buku dan di archive website. Itu tidak artinya, lebih baik tidak usah riset sama sekali kalau memang dari awal tidak ada tujuan pemanfaatannya. Maka akademisi dan ilmuwan yang melakukan riset juga harus sadar akan kondisi tersebut.

Kamu berkarir di perusahaan / korporasi bisa melakukan riset untuk pengembangan jasa atau produk perusahaan tersebut.

Kamu yang bekerja sebagai entrepreneur / businessman yang gemar menangkap peluang-peluang di berbagai situasi, situasi baik maupun situasi buruk seperti pandemi global. Lakukan riset yang utuh dan tekun dalam memformulasikan, memvalidasi ide peluang tersebut, sehingga bisa menjadi sebuah produk atau solusi yang mencerahkan dan memberi manfaat, keuntungan bagi banyak orang dan tentunya memberikan dampak yang menguntungkan finansial dan ekonomi bisnis mu, mensejahterakan diri dan pegawai yang ikut bekerja. 

 

Research Awareness

Kesadaran Riset / Research Awareness di masyarakat, masyarakat Indonesia terutama, bisa memberikan dampak yang besar terhadap peningkatan peradaban dan budaya Bangsa Indonesia.

Indonesia bisa menjadi negara produsen besar dunia sekaligus negara mahir teknologi seperti Japan, USA, China, UK, Germany, South Korea, dll jika mendasarkan produktivitas dan kerja hariannya pada riset.

Riset yang tidak harus kompleks dan masif, cukup memulai dari yang sederhana dan berskala kecil, sesuai kebutuhan dan kapasitas diri kita. Andalkan dulu diri sendiri dan rekan-rekan yang bisa kita percaya dan andalkan untuk mencapai ambisi dan impian kita.

Bermodalkan skill yang ada dan terus diasah serta kemampuan melakukan riset yang baik, jangan ragu untuk mengimplementasi dan mengeksekusi solusi dari hasil riset tersebut. Walaupun bisa saja belum berhasil, tapi kualitas solusi/produk nya akan lebih baik daripada solusi/produk yang dikerjakan tanpa riset. Titik kekurangan dan kesalahannya pun lebih mudah ditemukan, karena pemetaan solusi sudah jelas dan data hasil riset bisa kita andalkan untuk misalnya perlu melakukan pivot (ubah haluan model bisnis). Tidak sembarangan pivot, karena ada dasar data nya. Riset pun dilakukan tidak cuma satu kali, tapi bisa berulang kali sesuai dinamika yang ada di lapangan.

Sekali lagi, untuk cara mengerjakannya bisa disimak di artikel Cara Melakukan Riset Untuk Kebutuhan Bisnis, Kreasi, Produk, Dll

 

Selamat mencoba dan semoga sukses! (ZP)

One thought on “Ide Brilian Ada, Dikerjakan Sudah. Tapi Kenapa Tetap Gagal?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s